Rayakan Hari Kartini, Duet Veronika Lake-Yustina Kosat Gelar Pelatihan Tenun Ikat




FATUNENO -- Sebagai wujud konkrit dari gerakan emansipasi perempuan dan merayakan peringatan Hari Kartini, aktivis perempuan Veronika Lake, MM dan Yustina Tafin Kosat, SP menggelar pelatihan tenun ikat kepada Kelompok Tenun Amnautob di Desa Fatuneno, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara. 


"Dalam rangka merayakan Hari Kartini, saya mengunjungi kelompok tenun Amnautob untuk mengadakan kegiatan pelatihan tenun ikat kepada para mama-mama penenun. Saya bersyukur ada instruktur handal yakni Ibu Yustina yang rela mengorbankan waktu untuk melatih," ujar Veronika yang adalah Kepala Bidang Perempuan, Kesehatan, Pendidikan dan Anak Yayasan Mitra Terang Timor Nusantara (YMTTN). 


Veronika menceritakan, pelatihan tenun ikat ini bisa dilakukan dalam kerja sama dengan Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si atau Ansy Lema. Karena itu ia berterima kasih kepada DPR RI Ansy Lema atas kepedulian dan perhatian kepada mama-mama penenun. 


"Terima kasih kepada Pak Ansy dan Ibu Inge yang memberikan hati dan kepedulian untuk membantu mama-mama penenun untuk meningkatkan kemampuan mereka. Dukungan finansial untuk pengadaan benang dan peralatan sangat bermanfaat untuk terselenggaranya pelatihan ini," lanjut Veronika. 


Veronika mencatat bahwa salah satu problem dan tantangan dalam menenun adalah akses pasar. Karena itu ia berharap pemerintah daerah harus giat mencarikan pasar kepada para penenun. Karena tanpa pasar, mama-mama penenun kehilangan semangat dan motivasi untuk menenun.


Peningkatan Kapasitas Penenun


Yustina Kosat menceritakan bahwa pelatihan tenun ikat hari ini berkonsentrasi pada pelatihan tenun ikat teknik tradisional Atoni Pah Metro Timor mulai dari motif, pembubuhan zat pewarna, dan cara menenun. Ia berharap mama-mama penenun melalui pelatihan ini semakin giat melestarikan budaya lokal. 


"Produk kain tenun ikat lokal NTT, termasuk di Timor mampu memikat perhatian karena berbagai keunikannya, seperti diproduksi dengan tangan manusia menggunakan alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu serta penggunaan warna yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Karena itu kami fokus pada lokalitas," ungkap Yustina. 





Sambil berterima kasih atas dukungan Ansy Lema, Yustina berharap kegiatan pelatihan tenun kepada perempuan-ibu perlu ditingkatkan. Karena saat ini belum banyak penenun yang memproduksi tenun ikat untuk dipasarkan secara konsisten dan berkelanjutan. Sebagian besar penenun NTT memproduksi kain tenun ikat manakala ada pemesanan dari pembeli.


"Menenun tenun ikat belum dipandang sebagian besar orang sebagai mata pencarian, melainkan hanya sekadar pekerjaan tidak tetap atau serabutan. Maka dukungan pelatihan menjadi langkah penting untuk memotivasi para perempuan di NTT agar terus berkarya menghasilkan tenun ikat dan mengandalkannya sebagai sumber mata pencarian," tutupnya.

Artikel Pilihan

Iklan