" Di Puncak Hari Bakti Rimbawan Dirjen KSDAE Luncurkan Program KSDAE Mengajar di SMAN 3 Fatuleu Kabupaten Kupang"





Silu,vista-nusantara.com,- Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE)  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Ir.Wiratno, M.Sc, pada Senin (21/03/2022) resmi meluncurkan Program KSDAE Mengajar  di SMAN 3 Fatuleu, Desa Silu Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. 


Dikatakan bahwa Acara  peluncuran program KSDAE Mengajar merupakan bagian dari puncak perayaan Hari Bakti Rimbawan setiap tanggal 16 Maret,"ujar wiratno.


"Launching  program tersebut sebagai tanda awal perjalanan KSDAE Mengajar di seluruh UPT Direktorat Jenderal KSDAE se-Indonesia,"imbuhnya.


Dirjen KSDAE, Wiratno, mengawaili sambutannya mengatakan, "Launching KSDAE Mengajar sebagai puncak peringatan Hari Bakti Rimbawan.  Kegiatan launching selain melalui tatap muka juga diikuti secara livestreaming di youtube dengan rencananya sebanyak 1000 kuota,  tetapi saat sekarang menurut laporan sudah melebihi kuota."sebut Wiratno.


Wiratno menjelaskan Program ini sebagai sebuah wujud dari lima prinsip yang sudah kita uji terus yakni,   Pertama, Kepedulian kedua,  Keberpihakan. Kepedulian dan keberpihakan kepada yang miskin dan kurang berpendidikan karena  tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Kepedulian dan keberpihakan terhadap sekolah yang tidak punya fasilitas, sarana pra sarana pendukung proses belajar mengajar, seperti ketiadaan bangku di kelas, ketiadaan air, pagar pengaman sekolah,"rincinya.





Ketiga, Kepeloporan. Ada banyak di sini ( NTT)  yang sudah mempraktekan bagaimana menjadi Kepala sekolah   tanpa gedung, seperti bapak Yosep di  SMAN 3 Fatuleu yang pertama kali  membangun sekolah ini tanpa gedung. Beliau mulai dari nol, bahkan waktu awal itu tidak ada pohon sampai sehijau seperti ini.


Dikatakan,Bapak  Yoseph mulai merintis sekolah dengan 17 orang siswa awal mulanya, tetapi sampai kini sekolah ini berkembang sebesar ini. 


" Karena itu Kepala Sekolah, seperti Bapak Yos patut menjadi contoh dan diberi penghargaan sebagai pendidik,"tutur Wiratno.


Keempat, Konsistensi. Konsistensi mulai dari satu kedua,  sehari, sebulan  dan setahun yang bisa anda wujudkan.


Kelima, Kepemimpinan. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah tentang leadership style.


Dirjen KSDAE pada kesempatan launching mengajak secara khusus  untuk ke lapangan agar  sama-sama melihat dan mengetahui sumbedaya alam NTT yang begitu luar biasa.


"Kita mempunyai sumber daya yang luar biasa. Hal ini menunjukkan betapa Indonesia itu hebat dan kita ingin membangun upaya pengelolaan kita sendiri untuk membawa perubahan.  Kita  menjadi bagian dari gerbong kereta perubahan yang sedang dinahkodai oleh bapak Presiden Joko Widodo," ujarnya.


Pada soal mencerdaskan kehidupan bangsa, Wiratno  di podium halaman SMAN 3 Fatuleu, menuturkan   tidak boleh ada anak NTT yang tidak bisa baca tulis. Anak NTT harus bangkit dan mampu sebagai orang yang cerdas. Anak NTT keluar dari soal stunting misalnya.


"Kita NTT  sekarang sedang menyelesaikan stunting. Kepada Bapak Gubernur Terima kasih atas leadershipnya yang senantiasa memberi spirit untuk menyelesaikan masalah stunting.


Dirjen Wiratno juga melihat spirit dan motivasi yang kuat dari Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan punya keterpanggilan terhadap upaya merubah kehidupan masyarakat NTT, termasuk yang menetap di dekat area Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem.


" Saya lihat hobinya pak Gubernur sama dengan saya. Beliau keliling kelayapan, dan blusukan kemana-mana. Hampir di seluruh kawasan konservasi beliau telah pergi meninjau. Gubernur ini luar biasa, terima kasih, karena Kawasan KSDAE, atau Taman Nasional disini juga adalah milik provinsi NTT," ulasnya 


Dirjen KSDAE, Wiratno dihadapan forum launching KSDAE Mengajar, meminta kolaborasi untuk pengembangan program inovasinya.


"Nanti kita kerjasama dengan Dinas pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT  dan semua unsur masyarakat sipil yang ingin agar anak-anak desanya berkembang maju. Karena pendidikan itu adalah hak setiap warga negara Indonesia," kata wiratno.


" Sambil memberikan informasi seperti Suku Anak Dalam ada yang sekolah SKMA dan sekarang ada yang menjadi sarjana. 


Sementara itu sebelumnya Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat, menjelaskan pendidikan konservasi merupakan sebuah proses pembelajaran untuk membangun spirit kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dimana tujuan pendidikan konservasi adalah untuk mengubah perilaku dan sikap yang di lakukan oleh para siswa yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan demi kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.


“Konservasi itu adalah mengembalikan sesuatu yang telah diciptakan oleh Pencipta agar terjaga seperti sediakala, sehingga dapat dinikmati oleh penerus kehidupan yakni generasi yang akan datang. Mereka yang melakukan konservasi adalah orang-orang terpilih. Oleh karena itu, selain oleh pak Dirjen, saya juga memberikan apresiasi kepada Kepala Sekolah SMAN 3 Fatuleu, para murid dan guru-gurunya, karena telah mengupayakan karya dan karsa  yang bisa dinikmati oleh generasi penerus, bukan saja pada pendidikan formal, tapi bagaimana berekspresi dengan ilmunya saat hidup di masyarakat dan alam serta lingkungannya. Jadi cara _mindset_ yang benar adalah pendidikan untuk membuka lapangan pekerjaan, bukan pendidikan untuk mencari pekerjaan,” jelas Gubernur Viktor.


Seusainya sambutan, Dirjen KSDAE KLHK bersama Gubernur NTT langsung memukul gong tanda resminnya  program KSDAE Mengajar.


Launching KSDAE Mengajar juga penandatanganan  MoU antara Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT dengan Dirjen KSDAE NTT, dan Penyerahan Sertifikat  Penghargaan kepada Kepala Sekolah SMAN 3 Bapak Yosep Kono  sebagai perintis sekolah di sekitar area KSDAE dan juga kepada Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, serta Penyerahan Buku dari Dirjen KSDAE Kementerian LHK.


Selain  melaunching program KSDAE Mengajar, Dirjen KSDAE  bersama dengan Gubernur didampingi Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe juga turut secara simbolis menanam dua anakan pohon di lokasi Arboretum SMA Negeri 3 Fatuleu.


 Dua anakan  yang ditanam yakni anakan kelengkeng atau dalam istilah botani disebut  Dimocarpus Longan.


Sebelum meninggalkan lokasi kegiatan Dirjen KSDAE bersama Gubernur NTT serta Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe pun  menyempatkan diri mengunjungi ruang kelas XI Mipa melihat langsung proses pembelajaran oleh rimbawan tentang konservasi sumber daya alam kepada para siswa SMA Negeri 3 Fatuleu.


Hadir pada kesempatan tersebut Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Ketua TP-PKK  Provinsi NTT Julie Sutrisno Laiskodat, Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi NTT Ir. Arief Mahmud, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Linus Lusi, Staf Khusus Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Prof. Daniel D. Kameo. (Arnold)

Artikel Pilihan

Iklan